Sunday

Manusia dan Cinta Kasih

1:06 PM 0 Comments
a)      Pengertian Cinta Kasih dan Sayang
 
Ada beberapa pendapat mengenai pengertian cinta kasih. Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia karangan W.J.S. Purwodarminta, cinta adalah rasa sangat suka (kepada) atau rasa sayang (kepada), ataupun rasa sangat kasih atau sangat tertarik hatinya. Sedangkan kata kasih, artinya perasaan sayang atau cinta (kepada) atau menaruh belas kasihan. Dengan demikian, arti cinta dan kasih itu hamper sama sehingga kata kasih dapat dikatakan lebih memperkuat rasa cinta. Oleh karena itu, cinta kasih dapat diartikan sebagai perasaan suka (sayang) kepada seseorang yang disertai dengan menaruh belas kasihan.
Walaupun cinta dan kasih mengandung arti yang hampir sama, antara keduanya terdapat perbedaan, yaitu cinta lebih mengandung pengertian tentang rasa yang mendalam, sedangkan kasih merupakan pengungkapan untuk mengeluarkan rasa, mengarah pada orang atau yang dicintai. Dengan kata lain, bersumber dari cinta yang mendalam itulah kasih dapat diwujudkan secara nyata.

Dr. Sarlito W. Sarwono mengemukakan bahwa cinta itu memiliki tiga unsur, yaitu ketertarikan, keintiman, dan kemesraan.

Cinta kasih adalah gabungan dari rasa keterikatan, keintiman dan kemesraan yang dibumbui belas kasihan dan diungkapkan dengan tanggung jawab.
b)     Pengertian Kasih Sayang
Pengertian kasih sayang menurut kamus umum bahasa Indonesia karangan W.J.S Poerwadaminta yaitu perasaan sayang, perasaan cinta atau perasaan suka pada seseorang. Dalam berumah tangga kasih sayang merupakan kunci kebahagiaan. Kasih sayang adalah awal dari cinta. Tanpa kita sadari, saat kita mengungkapkan cinta, kita dituntut untuk bertanggung jawab, pengorbanan, simpatik, saling terbuka, dan menjaga komunikasi kepada seseorang yang kita ungkapkan cinta.
c)      Macam-macam Cinta
Menurut Erich Fromm (1983 : 54) dalam bukunya Seni Mencintai mengemukakan tentang adanya berbagai macam-cinta yang dapat di uraikan sebagai berikut :
Cinta Diri Sendiri
Secara alami manusia mencintai dirinya sendiri (self love) dan banyak orang yang menafsirkan cinta diri sendiri diidentikan dengan egoistis. Mungkin terdengar seperti negatif, namun maksudnya adalah kita harus mencintai diri sendiri agar tidak merasa kekurangan dan minder terhadap orang lain. Tetapi ada baiknya jika kita juga bisa mengimbangi rasa cinta kita kepada orang lain.
Cinta Sesama Manusia / Persaudaraan
Cinta kepada sesama manusia atau persaudaraan (agape. Bahasa Yunani) itu merupakan watak manusia itu sendiri dan diwujudkan dalam tingkah laku atau perbuatannya kepada sesama manusia. Cinta ini bisa dibilang alamiah karena pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang butuh orang lain untuk melakukan sesuatu.
Cinta Erotis
Cinta yang erat dorongannya dengan dorongan seksual (sifat membirahikan) ini merupakan sifat eksklusif (khusus) yang bias memperdayakan cinta yang sebenarnya. Cinta dan hawa nafsu tidak jauh berbeda. Namun lebih baik cinta ini didasari dengan tanggung jawab
Cinta Keibuan
Kasih sayang itu bersumber dari cinta keibuan, yang paling asli dan yang terdapat pada diri seorang ibu terhadap anaknya sendiri.
Cinta terhadap Allah
Cinta ini adalah cinta yang paling murni. Karena cinta kepada Tuhan adalah ikhlas. Manusia juga pada dasarnya memiliki rasa takut akan dosa dan akibatnya. Oleh karena itu cinta ini disebut cinta yang paling murni dan tak bercacat.
Cinta terhadap Rasul
Ini merupakan ideal yang sempurna bagi manusia baik dalam tingkah laku, moral, maupun berbagai sifat luhur lainnya.

 sumber : https://spajie.blogspot.co.id/2015/05/tugasiii-ilmubudaya-dasar-manusia-dan.html 


PUISI

AKU SI PENCEMAS


Tahukah kamu bahwa kita masih muda?
Apakah terlalu dini untuk mengungkapkan perasaan?
Tidak, kan?
Jalan kita masih panjang, kan?
Aku hanya takut, kan?
Bahwa aku tidak dapat menerima kenyataan yang tidak aku inginkan.
Ya, kan?
Coba terka bagaimana perasaanku saat ini.
Sehingga setiap malam jika kau tertidur, aku gelisah.
Sehingga setiap malam aku selalu dihantui kenangan. Bukan kenangan masa lalu.
Tapi kenangan setiap kata yang sudah terucap dalam 24 jam ini.
Aku tidak bisa meninggalkan semuanya. Ya, kan?
Aku bahkan tidak tahu bagaimana perasaanmu jika aku pergi. Ya, kan?
Karena khawatir sendirian itu tidak enak.
Ya, kan?

Thursday

Ilmu Budaya Dasar #1

3:13 PM 0 Comments
Manusia & Kebudayaan
Manusia & Kesusastraan

Latar Belakang

Manusia dan kebudayaan adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Manusia itu sendiri memiliki sifat dan perilaku dari cerminan kebudayaan yang dianut, sesuai dengan kebudayaan yang ada di daerah tempat tinggalnya. Manusia atau orang dapat diartikan berbeda-beda dari segi biologis, rohani, dan istilah kebudayaan, atau secara campuran. Manusia merupakan makhluk sosial yang berinteraksi satu sama lain dan melakukan suatu kebiasaan-kebiasaan tertentu yang pada akhirnya menjadi budaya yang biasa mereka lakukan. Kebudayaan adalah produk manusia, namun manusia itu sendiri adalah produk kebudayaan. Dengan kata lain, kebudayaan ada karena manusia yang menciptakannya dan  manusia dapat hidup ditengah kebudayaan yang diciptakannya.  Kebudayaan akan terus hidup manakala ada manusia sebagai pendudukungnya dan kebudayaan mempunyai kegunaan yang sangat besar bagi manusia di dalam kehidupannya.

Seni rupa sebagai karya seni yang nampaknya rupa seolah-olah hanya dapat dihayati dengan indra mata. Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang dianugerahi pikiran, perasaan dan kemauan secara naluriah memerlukan prantara budaya untuk menyatakan rasa seninya, baik secara aktif dalam kegiatan kreatif, maupun secara pasif dalam kegiatan apresiatif. Dalam kegiatan apresiatif, yaitu mengadakan pendekatan terhadap seni rupa seolah-olah kita memasuki suatu alam rasa yang kasat mata.



Tujuan
Tujuan dari penulisan ini, adalah agar pembaca mengetahui bagaimana faktor-faktor terbentuknya manusia yang berbeda sifat dan perilaku melalui kebudayaan dan untuk mengetahui bagaimana hubungan manusia dan kesusastraan.



1. Manusia dan Kebudayaan

1.1 Manusia
     
     Manusia atau orang dapat diartikan berbeda-beda dari segi biologis, rohani, dan istilah kebudayaan, atau secara campuran. Secara biologis, manusia diklasifikasikan sebagai Homo sapiens (Bahasa Latin yang berarti "manusia yang tahu"), sebuah spesies primata dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi. Dalam hal kerohanian, mereka dijelaskan menggunakan konsep jiwa yang bervariasi yang, dalam agama, dimengerti dalam hubungannya dengan kekuatan ketuhanan atau makhluk hidup; dalam mitos, mereka juga seringkali dibandingkan dengan ras lain. Dalam antropologi kebudayaan, mereka dijelaskan berdasarkan penggunaan bahasanya, organisasi mereka dalam masyarakat majemuk serta perkembangan teknologinya, dan terutama berdasarkan kemampuannya untuk membentuk kelompok, dan lembaga untuk dukungan satu sama lain serta pertolongan.
(https://id.wikipedia.org/wiki/Manusia)

1.2 Pengertian Manusia Menurut Para Ahli
  1. Paula J. C. & Janet W. K.
Menurut Paula J. C. & Janet W. K. Manusia merupakan makhluk yang terbuka, bebas memilih makna di dalam setiap situasi, mengemban tanggung jawab atas setiap keputusan, yang hidup secara berkelanjutan, serta turut menyusun pola hubungan antar sesama dan unggul multidimensional dengan berbagai kemungkinan.
  1. Omar Mohammad Al – Toumi Al – Syaibany
Menurut Omar Mohammad Al – Toumi Al – Syaibany, pengertian manusia adalah makhluk yang mulia. Masuia merupakan makhluk yang mampu berpikir, dan menusia merupakan makhluk 3 dimensi (yang terdiri dari badan, ruh, dan kemampuan berpikir / akal). Manusia di dalam proses tumbuh kembangnya dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu faktor keturunan dan faktor lingkungan.
  1. Kees Bertens
Menurut Kees Bertens, manusia adalah setiap makhluk yang terdiri dari dua unsur yang satuannya tidak dapat dinyatakan dalam bentuk apapun.
  1. Upanisads
Menurut Upanisads, manusia merupakan sebuah kombinasi dari beberapa unsur kehidupan seperti roh (atman), pikiran, jiwa, dan prana (tubuh / fisik).
  1. Nicolaus D. & A. Sudiarja
Menurut Nicolaus D. & A. Sudiarja, manusia adalah bhineka, akan tetapi tunggal. Manusia disebut bhineka karena ia mempunyai jasmai dan rohani, sedangkan disebut tunggal karena hanya berupa satu benda / barang saja.
  1. Abineno J. I
Menurut Abineno J. I, manusia adalah “tubuh yang dilengkapi dengan jiwa / berjiwa” dan bukan “jia abadi yang berada atau pun yang terbungkus di dalam sebuah tubuh / badan yang fana / tidak nyata”.
  1. Sokrates

Menurut Sokrates, pengertian manusia adalah makhluk hidup yang memiliki dua kaki, yang tidak berbulu, dan memiliki kuku datar berukuran lebar.
  1. I Wayan Watra
Menurut I Wayan Warta, manuisa merupakan makhluk yang dinamis yang menganut trias dinamika yaitu cipta, karsa, dan rasa.
  1. Erbe Sentanu
Menurut Erbe Sentanu, manusia merupakan makhluk sebaik – baiknya yang diciptakan oleh Tuhan. Bahkan, dapat dikatakan manusia merupakan ciptaan Tuhan yang paling sempurna jika dibandingkan dengan makhluk citaannya yang lain.
  1. Agung. P. P.
Menurut Agung P. P., Manusia dapat diartikan sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna, yang tersusun atas kesatuan fisik, ruh / jiwa, dan akal pikiran yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan lingkungannya.
(https://pengertiandefinisi.com/pengertian-manusia-menurut-para-ahli/)

2. Kebudayaan
2.1 Definisi Budaya
    
     Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang, dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya, dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.

2.2 Pengertian Budaya

     Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism.

Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic.

Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual, dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.

Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.

Menurut Selo Soemardjan, dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.

Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan, dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak.

2.3 Unsur-Unsur Kebudayaan
  1. Melville J. Herskovits menyebutkan kebudayaan memiliki 4 unsur pokok, yaitu:
    • alat-alat teknologi
    • sistem ekonomi
    • keluarga
    • kekuasaan politik
  2. Bronislaw Malinowski mengatakan ada 4 unsur pokok yang meliputi:
    • sistem norma sosial yang memungkinkan kerja sama antara para anggota masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan alam sekelilingnya
    • organisasi ekonomi
    • alat-alat, dan lembaga-lembaga atau petugas-petugas untuk pendidikan (keluarga adalah lembaga pendidikan utama)
    • organisasi kekuatan (politik)
  3. C. Kluckhohn mengemukakan ada 7 unsur kebudayaan secara universal (universal categories of culture) yaitu:
    • bahasa
    • sistem pengetahuan
    • sistem tekhnologi, dan peralatan
    • sistem kesenian
    • sistem mata pencarian hidup
    • sistem religi
    • sistem kekerabatan, dan organisasi kemasyarakatan

 2.4 Wujud Kebudayaan

      Menurut J.J. Hoenigman, wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga: gagasan, aktivitas, dan artefak.
  • Gagasan (Wujud ideal)
    Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak; tidak dapat diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam kepala-kepala atau di alam pemikiran warga masyarakat. Jika masyarakat tersebut menyatakan gagasan mereka itu dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada dalam karangan, dan buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat tersebut.
  • Aktivitas (tindakan)
    Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya konkret, terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati, dan didokumentasikan.
  • Artefak (karya)
    Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret di antara ketiga wujud kebudayaan. Dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, antara wujud kebudayaan yang satu tidak bisa dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain. Sebagai contoh: wujud kebudayaan ideal mengatur, dan memberi arah kepada tindakan (aktivitas) dan karya (artefak) manusia.
(https://id.wikipedia.org/wiki/Budaya)

2.5 Hubungan Manusia dan Kebudayaan

Manusia dan kebudayaan merupakan salah satu ikatan yang tak bisa dipisahkan dalam kehidupan ini. Manusia sebagai makhluk Tuhan yang paling sempurna menciptakan kebudayaan mereka sendiri dan melestarikannya secara turun menurun. Budaya tercipta dari kegiatan sehari hari dan juga dari kejadian – kejadian yang sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa.

Kebudayaan berasal dari kata budaya yang berarti hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Definisi Kebudyaan itu sendiri adalah sesuatu yang akan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Namun kebudayaan juga dapat kita nikmati dengan panca indera kita. Lagu, tari, dan bahasa merupakan salah satu bentuk kebudayaan yang dapat kita rasakan.

Secara sederhana hubungan antara manusia dengan kebudayaan ketika manusia sebagai perilaku kebudayaan,dan kebudayaan tersebut merupakan objek yang dilaksanakan sehari-hari oleh manusia

(https://parkjiyoung.wordpress.com/2013/01/07/hubungan-manusia-dan-kebudayaan/)

3. Sastra
    Sastra (Sanskerta: शास्त्र, shastra) merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta śāstra, yang berarti "teks yang mengandung instruksi" atau "pedoman", dari kata dasar śās- yang berarti "instruksi" atau "ajaran". Dalam bahasa Indonesia kata ini biasa digunakan untuk merujuk kepada "kesusastraan" atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu.


(https://id.wikipedia.org/wiki/Sastra)

3.1 Ilmu Budaya Dasar yang Dihubungkan dengan Prosa

     Prosa adalah suatu jenis tulisan yang dibedakan dengan puisi karena variasi ritme yang dimilikinya lebih besar, serta bahasanya yang lebih sesuai dengan arti leksikalnya. Kata prosa berasal dari bahasa Latin "prosa" yang artinya "terus terang". Jenis tulisan prosa biasanya digunakan untuk mendeskripsikan suatu fakta atau ide. Karenanya, prosa dapat digunakan untuk surat kabar, majalah, novel, ensiklopedia, surat, serta berbagai jenis media lainnya.prosa juga dibagi dalam dua bagian,yaitu prosa lama dan prosa baru,prosa lama adalah prosa bahasa indonesia yang belum terpengaruhi budaya barat,dan prosa baru ialah prosa yang dikarang bebas tanpa aturan apa pun.

     Jenis-jenis prosa :
  1. Naratif
  2. Deskriptif
  3. Argumentasi
  4. Eksposis
(https://id.wikipedia.org/wiki/Prosa)
 




My Talent = Overthinking

11:32 PM 0 Comments
 1. Surrounded by
"Gua pengen cerita"
"Tapi abis ini janji ya jangan dikasih tau siapa-siapa"
"Ini gua sama elu aja yang tau"
"Gua gatau kemana lagi harus cerita"
"Lu bisa kan jadi tempat gua cerita?"
"Gua gapunya siapa-siapa"



Itu gua.
20 April 1998 - 22 Desember 2016.
Kagak jir, gua gak mati.
Kenapa?

Awal masuk kuliah, gak tau kenapa tapi gua males banget yang namanya nyari temen. Mungkin karna gua gak bisa terima yang namanya ada jarak yang bikin gua jarang ketemu sama mereka; antara gua sama sahabat SMP dan SMA gua. Gua gak pinter bergaul wkwk.
Sahabat SMP gua cuma ada 2; Dona & Thalia, sampe sekarang juga masih berhubungan baik. Sahabat SMA gua ada 3; Kaprill, Riri, Syafira, sampe sekarang juga masih berhubungan baik.

Pas lulus SMP, gua tuh sempet mikir 'kenapa sih harus pindah SMA. Gua gak bakal mau punya temen di SMA'. Akhirnya dapet, walaupun gak banyak. Gatau di kuliah ini gimana. Di awal semester ini aja gua gak ngandelin siapa-siapa. Gua ngerjain apa-apa juga sendiri.

Gua gak punya rahasia. Karna gua pikir, 1 orang aja yang tau selain gua, itu udah bukan rahasia lagi.
Apa sih yang orang gak tau tentang gua? Semuanya tau kok, sampe ke hal yanggggg paling buruk yang pernah gua alami juga mereka tau, walaupun gak semua orang. Mulai yang dari responnya "Hah? Serius?" sampe ada yang responnya "Ini udah 5 tahun ren, lu baru cerita sekarang? Lu nyimpen beginian sendirian".
Semua yang gua ceritain itu rahasia umum.
Tapi gua gak tau kenapa, gua fine-fine aja sama keadaan yang begini. Maksudnya, gua gak mikir 2 kali buat cerita ke siapa aja tentang aib gua.
Tapi, lagi.
Gua gak biasa hidup tanpa ngomong ke orang. I really need to talk. Gua bukan gua, kalo gua diem aja. Tapi kalo disuruh ngerjain apapun, ngejalanin apapun, gua bisa sendiri.

2. Derided
Basically, orang pasti gak suka kalo diejek trus diomongin. Gua juga kok, sama. Gua gak masalah jadi bahan ejekan asal mereka bisa ketawa sebenernya itu agak bullshit ya. Gua juga lebih sering jadi bahan omongan.
"Liat dia temenannya sama cowo"
"Liat bajunya irene, pendek banget. Mau mangkal kali"
"Jablay"
"Irene tuh tukang gosip anjir, gua juga pernah digosipin sama dia"
"Gua beli ini, dia juga beli itu. Ngikutin. Copycats"

1. Gua berteman dengan semuanya. Tapi jujur aja, gua lebih memilih temenan sama cowo daripada sama cewe. Kalopun ada temen/sahabat gua yang cewe, trust me, temen dari temen gua juga cowo semua. Kenapa sih harus cowo? Cowo itu easy going. Coba cewe, harus menjalani beberapa tahap dulu yang akhirnya lu dapet kata-kata ini, 'eh gua pengen cerita, tapi ini rahasia kita ya'.

2. wkwkwk. You said that when I was wearing a mini dress. Gua kalo gereja emang bajunya pendek, dan itu baju dress. Ini bukan karna 'ah kristen boleh sih ya pake baju pendek'. No, fuck no. Dress itu identik dengan rapih, berkelas, niat. Gak mungkin gua pake kaos oblong, celana basket ke gereja kan? Ya emang gak mesti dress, tapi asalkan rapi. Tapi juga, ya emang kenapa kalo gua pake dress? What is wrong with dress?

3. wkwkwk. Bukan jablay, tapi emang lebih dominan deket sama cowo

4. wkwkwk, gua juga jadi bahan omongan lo dong kalo misalnya lo ngomong kayak gitu ke orang-orang.

5. Lah?

Gua gak masalah jadi omongan orang, yang jadi masalah kalo omongan itu ada efeknya. Entah itu, gua jadi dijauhin temen, nah itu gua gak bisa. Secara, gua butuh orang buat ngomong.

3. Guilty
Gua orangnya selalu ngerasa bersalah. I'd do anything if its needed, kalo itu bisa bikin lo maafin gua wkwk.

4. Negative Thinking
Gua orang yang penuh dengan suujon wkwkwk. Gua banyak kehilangan orang kok, makanya wanti-wanti dengan cara ini wkwkwk

5. Chronophobia
Takut waktu. Siapa sih yang gak takut sama waktu? Gua aja takut telat, takut masa lalu, takut masa depan.
Iya, takut masa depan. Lo gak tau kan masa depan tuh gimana? Gimana lo nanti, lo bakal jadi apa, lo bakal kayak apa. Apalagi, memori itu gak sepenuhnya bisa di inget. Iya gak sih?
Gua salah satunya yang takut masa depan. Karna gua tipe orang yang periang, otomatis gua selalu mengalami kejadian absurd sama temen-temen gua yang ‘pengennya’ gak bakal gua lupain. Iya dong jelas. You only live once, yang secara gak langsung, elo dituntut melakukan suatu hal yang tak terlupakan, dengan frekuensi 1 kali selamanya. Dan lo harus tau, kalau pun lo mau mengulangnya kembali, itu gak bakal sama dengan kejadian yang lo lakuin saat pertama kali. Beda kan pasti sensasinya?
Ya, maksud gua itu. Dimana gua masih dikasi napas idup, tapi gua gak mau mengikuti hari esok, karna gua gak tau kesalahan apa lagi yang bakalan gua perbuat. Entah itu jauh dari temen, nyakitin keluarga, kehilangan pacar, lupa temen. Takut. Serius, takut. Karna itu bakal balik ke gua sendiri, ‘gua salah apa ya’, 'kok gua bisa begini sih’, 'aturan gua gak begitu ke mereka’ bla bla bla.